#karantinantb
BIMA – Karantina NTB melalui Satuan Pelayanan (Satpel) Pelabuhan Bima memperketat pengawasan lalu lintas komoditas jagung. Langkah ini menjadi strategi proaktif untuk mendukung ketahanan pangan nasional dengan memastikan setiap bulir jagung yang keluar dari wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) bebas dari Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK).
Menjelang puncak panen raya, petugas karantina intensif melakukan pemantauan dan pengambilan sampel secara langsung. Pengawasan ini fokus mendeteksi keberadaan hama pascapanen berbahaya seperti Sitophilus granarius dan Lophocateres pusillus. Kedua hama ini mengancam lumbung pangan karena mampu merusak bagian endosperma biji jagung dan memicu kehilangan hasil hingga 20% dalam waktu singkat. Tanpa pengawasan ketat, kerugian dapat melonjak hingga 60% yang berisiko mengganggu stabilitas stok pangan daerah maupun nasional.
Penanggung Jawab Satpel Pelabuhan Bima, Abdul Salam, menegaskan bahwa Satpel Pelabuhan Bima memegang peranan krusial dalam rantai distribusi hasil pertanian. “Kami mengawal ketat setiap pergerakan jagung. Peningkatan produksi jagung di Bima harus selaras dengan upaya menjaga standar keamanan hayati yang tinggi. Tujuannya agar komoditas jagung memiliki daya saing di pasar lokal maupun global serta aman dikonsumsi masyarakat,” tegas Salam.
Kepala Karantina NTB, Ina Soelistyani, mengungkapkan bahwa Karantina NTB berkomitmen memastikan kelancaran distribusi sekaligus membentengi wilayah Indonesia dari ancaman hama yang dapat melumpuhkan sektor pertanian nasional. "Dengan demikian, program strategis pemerintah yang fokus pada ketahanan pangan nasional dapat berjalan dengan baik," ujar Ina.
#laporkarantina #karantinaindonesia #berkarib